a) Ciri-ciri
Morfologi
Fauna dari keluarga musang ini memiliki ciri
khas ekor panjang dan tubuh yang besar. Panjang tubuhnya mencapai 60 - 95 cm,
serta panjang ekor mencapai 50 - 90 cm. Berat binturung antara 6 - 14 kg,
bahkan bisa mencapai 20 kg. Rambut binturung panjang dan kasar dengan warna
hitam kecokelatan disertai taburan uban keputih-putihan atau kemerahan. Pada
ujung telinga binturong terdapat seberkas rambut yang memanjang. Ekornya
berambut lebat, terutama pada bagian mendekati pangkal. Ekor ini dapat
digunakan untuk berpegangan pada dahan pohon ketika sedang tidur atau
bertengger supaya tidak terjatuh dari atas pohon. Selain itu, binturong
memiliki organ khas yang jarang ditemui, yakni pada binturong betina memiliki pseudo-penis
alias penis palsu.
Binturong memiliki keahlian dalam memanjat
atau melompat dari dahan ke dahan lainnya. Ketika binturong memanjat ke pohon
ia akan menggunakan cakarnya untuk mencengkeram, serta ekor yang Panjang untuk
penyeimbang ketika memanjat pohon.
b) Habitat
Binturong tinggal di hutan primer dan sekunder
sebagai habitatnya. Selain itu, binturong juga dapat ditemukan di Perkebunan
tepi hutan. Hewan ini hidup di hutan tropis pada ketinggian 1.500 mdpl.
c) Peranan
Binturong memiliki peranan sebagai satwa
mamalia yang merupakan bagian terpenting dari jaringan makanan di hutan. Satwa
ini termasuk sebagai pemangsa pada tingkat menengah piramida ekologi dan
berkontribusi dalam pengendalian populasi.
d) Penyebaran
(Sumber: Willcox, 2016)
Letak penyebaran Binturong tersebar di bagian
wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
a) Status
Konservasi
Populasi Binturong (A. binturong) cenderung mengalami penurunan, sehingga oleh IUCN Redlist binatang ini dimasukkan dalam status konservasi Vulnerable (VU; Rentan) dan terdaftar dalam (CITES) Apendiks III.
Member